
Mitigasi Bencana Hidrometeorologi melalui Penguatan KATANA dan DESTANA di Kabupaten Pesisir Selatan
Oleh: Dr. (c) Petrizal, ST, MT (Ahli Pengolahan Air Bersih dan Lingkungan)
Hari-hari dengan curah hujan tinggi seringkali membawa dampak serius, terutama ketika hujan berlangsung secara terus-menerus. Intensitas hujan yang melebihi daya serap tanah dan kapasitas sistem drainase dapat menyebabkan genangan hingga bencana banjir dan longsor.
Masih segar dalam ingatan kita peristiwa pada tanggal 7–8 Maret 2025, ketika sejumlah wilayah di Kabupaten Pesisir Selatan seperti Kampung Tanjung Nagari Duku Utara dan Langgai Nagari Ganting Mudik Utara mengalami bencana banjir dan longsor besar akibat curah hujan ekstrem.
Peristiwa tersebut meninggalkan kerugian besar di berbagai sektor kehidupan masyarakat. Sektor air minum, irigasi, dan perkebunan terdampak signifikan mengakibatkan gagal panen dan kerusakan parah pada rumah warga serta fasilitas umum. Data dari BPBD Kabupaten Pesisir Selatan mencatat,
Lebih dari 35 lokasi sarana air minum rusak, 28 unit sekolah terdampak, 36 sarana ibadah rusak, Kehilangan 715 ekor ternak sapi
Total kerugian ditaksir mencapai Rp437.772.128.261
Kerugian ini menjadi beban berat, baik bagi masyarakat maupun pemerintah daerah, dalam proses pemulihan pasca bencana.
Peran Penting KATANA dan DESTANA dalam Mitigasi
Melihat dampak yang begitu besar, sudah saatnya mitigasi bencana menjadi prioritas bersama. Salah satu langkah strategis adalah dengan menggiatkan program KATANA (Keluarga Tangguh Bencana) di setiap rumah tangga. Misalnya:
Menjaga kebersihan lingkungan sekitar, Membersihkan saluran drainase dari sampah
Meningkatkan kesadaran akan potensi bencana berbasis cuaca
Selain itu, perlu penguatan DESTANA (Desa Tangguh Bencana) dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dengan melibatkan relawan, membangun tata kelola lingkungan berkelanjutan, serta menjaga dan melindungi kawasan hutan yang berperan penting dalam menekan risiko banjir dan longsor.
Mitigasi Lingkungan sebagai Kebutuhan Mendesak
Mitigasi lingkungan harus menjadi langkah nyata dan berkelanjutan, antara lain dengan: Normalisasi sungai untuk memperlancar aliran air. Pembangunan sistem drainase yang memadai di kawasan permukiman dan jalan. Pengelolaan sampah berbasis masyarakat, agar tidak menumpuk di saluran air
Langkah-langkah sederhana ini, jika dilakukan secara konsisten, terbukti efektif dalam: Mencegah genangan
Mengurangi risiko banjir dan longsor, Meningkatkan ketahanan lingkungan terhadap curah hujan tinggi
Bencana memang tidak bisa sepenuhnya dicegah, namun dengan upaya mitigasi yang tepat, dampaknya bisa diminimalkan. Mari bersama-sama memperkuat ketangguhan keluarga, desa, dan lingkungan demi masa depan yang lebih aman dan berkelanjutan.

