
Pimpinan Wilayah Sumatera Barat Gelar Refleksi Satu Abad Muhammadiyah di Ranah Minang
Padang- nrtvnews info Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Barat menggelar kegiatan Refleksi Satu Abad Muhammadiyah di Ranah Minang dengan tema “Mengambil Hikmah Perjalanan Satu Abad Muhammadiyah di Ranah Minang”.
Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Dakwah Muhammadiyah Sumatera Barat dan dihadiri oleh jajaran pimpinan serta undangan dari berbagai daerah.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PWM Sumatera Barat Buya Dr. Bakhtiar, M.Pd, Sekretaris Buya Drs. Apris Yaman, MM, Bendahara Buya Dr. Murisal, M.Pd, Wakil Ketua Buya Zaitul Ikhlas, Buya Ir. Yosmeri Yusuf, Buya Dr. Marhadi Efendi beserta wakil ketua lainnya, Nara sumber. Selain itu, turut hadir perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Sumatera Barat, termasuk PDM Pesisir Selatan yang dihadiri oleh Elpinas, S.Kom, Dr. Mardianton, M.Pd, dan Fakhrial Amir, BSc, serta undangan lainnya, Sabtu (28/12)

Dalam sambutannya, Ketua PWM Sumatera Barat Buya Dr. Bakhtiar, M.Pd menyampaikan refleksi perjalanan panjang Muhammadiyah di Ranah Minang yang tidak terlepas dari peran tokoh-tokoh besar Minangkabau.
Di antaranya adalah Haji Rasul (Abdul Karim Amrullah) dan Buya A.R. Sutan Mansur yang menjadi figur penting dalam perkembangan awal Muhammadiyah di Sumatera Barat.
Buya Bakhtiar menjelaskan bahwa cabang Muhammadiyah pertama di Sumatera Barat didirikan di Sungai Batang, Maninjau, pada 29 Mei 1925. Selanjutnya, cabang kedua berdiri di Padang Panjang pada Juni 1926 dengan sekolah sebagai amal usaha, yang saat itu diketuai oleh Saalah Yusuf Sultan Mangkuto.

Lebih lanjut disampaikan bahwa sejak kelahirannya, Muhammadiyah tidak diposisikan sekadar sebagai organisasi keagamaan, melainkan sebagai gerakan Islam yang mengemban misi dakwah dan tajdid (pembaharuan).
Melalui pendidikan, dakwah, dan amal usaha, Muhammadiyah terus berkontribusi dalam membangun masyarakat Islam yang berkemajuan.
Secara keseluruhan, refleksi satu abad Muhammadiyah di Ranah Minang menegaskan peran strategis organisasi ini sebagai agen pembaharuan Islam, pendidikan, dan transformasi sosial. Muhammadiyah tidak hanya menjadi bagian dari sejarah Minangkabau, tetapi juga turut membentuk wajah Islam modern di Ranah Minang dengan berpijak pada nilai-nilai keislaman yang rasional, berkemajuan, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.(Alpin)

