Oleh: Hirdamli

(Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia Pesisir Selatan / ASN Bagian Kesra Sekretariat Daerah)

PERINGATAN ISRA’ MI’RAJ

Oleh: Hirdamli

(Koordinator Bidang Dakwah Badan Kontak Majelis Ta’lim Pesisir Selatan / ASN Bagian Kesra Setda)

Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling agung dan penuh makna dalam sejarah Islam. Peristiwa luar biasa ini terjadi pada bulan Rajab, sekitar tahun 621 Masehi, setahun sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Isra’ adalah perjalanan malam Nabi dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, sementara Mi’raj adalah perjalanan Nabi SAW naik ke langit hingga Sidratul Muntaha untuk bertemu Allah SWT.

Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an, Surah Al-Isra ayat 1, yang menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj adalah tanda kebesaran Allah SWT dan kemuliaan Rasulullah SAW sebagai manusia pilihan.

Isra’ Mi’raj terjadi pada masa yang sangat berat bagi Nabi SAW. Beliau baru saja kehilangan dua sosok yang sangat dicintai dan menjadi pelindung dakwahnya, yakni istri tercinta Khadijah RA dan pamannya Abu Thalib. Di tengah duka itulah Allah SWT menghibur Nabi dengan perjalanan spiritual yang luar biasa. Malaikat Jibril membersihkan hati Nabi dan membawanya menembus langit demi langit hingga menerima perintah shalat lima waktu langsung dari Allah SWT.

Di Indonesia dan dunia Islam, Isra’ Mi’raj diperingati setiap tanggal 27 Rajab. Tahun ini bertepatan dengan 16 Januari 2026. Peringatan ini sejatinya bukan sekadar mengenang kisah perjalanan Nabi, tetapi menjadi pengingat bagi umat Islam untuk memperbaiki kualitas ibadah dan kehidupan spiritual.

Isra’ Mi’raj mengajak kita untuk “naik derajat”, bukan secara fisik, tetapi secara rohani. Di tengah hiruk-pikuk era digital, marilah sejenak menjauh dari gawai, menundukkan diri dalam shalat, dan menghadirkan Allah dalam setiap langkah hidup. Sebagaimana Nabi SAW kembali dari Mi’raj dengan membawa hidayah, semoga kita pun kembali kepada fitrah sebagai hamba yang taat.

Namun yang paling penting, peringatan Isra’ Mi’raj tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan semata. Jika hanya diperingati tanpa diamalkan, maka esensi Isra’ Mi’raj akan hilang. Setidaknya, dari peristiwa ini kita dapat mengambil tiga pelajaran penting.

Pertama, Isra’ Mi’raj menegaskan kedudukan shalat sebagai tiang agama. Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT tanpa perantara. Awalnya diwajibkan 50 kali sehari, lalu diringankan menjadi lima waktu dengan pahala setara 50 kali. Ini menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang Muslim. Jika shalat dijaga dengan baik, insya Allah kehidupan pribadi dan sosial akan ikut membaik.

Kedua, Isra’ Mi’raj mengajarkan keteguhan iman di tengah ujian dan keraguan. Kisah ini sempat diragukan banyak orang, namun Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung membenarkannya tanpa ragu. Di tengah maraknya hoaks dan kebingungan informasi saat ini, umat Islam diajak untuk kembali berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, serta tidak mudah goyah oleh opini sesaat.

Ketiga, Isra’ Mi’raj adalah panggilan untuk memperbaiki akhlak dan meningkatkan spiritualitas. Nabi SAW menyaksikan langsung gambaran surga dan neraka. Ini menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Oleh karena itu, mari perbanyak taubat, sedekah, silaturahmi, dan menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya, peringatan Isra’ Mi’raj hendaknya menjadi momentum perubahan diri. Bukan hanya mengingat tanggal 27 Rajab, tetapi menjadikannya pedoman hidup: shalat lebih disiplin, iman semakin kuat, dan akhlak semakin mulia. Semoga kita semua termasuk umat yang mampu mengambil hikmah dan mengamalkannya dalam kehidupan nyata.

Wallahu a’lam bish-shawab.