Oleh : Elpinas,S.Kom PDM Pessel

Lebaran Idul Fitri 1447 H / 2026 menghadirkan cerita yang beragam, penuh warna, sekaligus menjadi cermin dinamika sosial di tengah masyarakat.
Oleh : Elpinas,S.Kom PDM Pessel
Tahun ini, suasana hari raya tidak hanya identik dengan silaturahmi dan tradisi pulang kampung, tetapi juga diwarnai oleh geliat sektor pariwisata yang mengalami lonjakan luar biasa, khususnya di wilayah Kabupaten Pesisir Selatan.
Pesisir Selatan (Pessel) tampil sebagai bintang baru dalam peta destinasi wisata Sumatera Barat. Jika selama ini perhatian wisatawan lebih banyak tertuju pada Bukittinggi, maka pada Lebaran tahun ini, arus kunjungan justru beralih dan menyebar secara signifikan ke Pessel. Lonjakan jumlah wisatawan bahkan mencapai dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa Pesisir Selatan tidak lagi sekadar pilihan alternatif, melainkan telah menjadi destinasi utama yang diminati oleh masyarakat luas.
Kondisi ini sejatinya sudah diprediksi sebelumnya. Melalui analisa yang dituangkan dalam tulisan berjudul
“Siasati Kemacetan Pasca Bencana, Pesisir Selatan Jadi Primadona Wisata Lebaran 1447 H” tertanggal 3 Maret 2026, Dr. Mardianton, M.Pd telah melihat potensi besar yang dimiliki wilayah ini. Ia menyoroti bagaimana perubahan arus mobilitas wisatawan, ditambah dengan faktor infrastruktur dan kondisi pasca bencana, mendorong pergeseran minat wisata ke daerah yang menawarkan pengalaman baru. Prediksi tersebut terbukti akurat, terlihat dari membludaknya pengunjung di berbagai objek wisata Pesisir Selatan sepanjang masa libur Lebaran.
Keindahan alam Pesisir Selatan memang tidak terbantahkan. Pantai-pantai yang memikat, gugusan pulau yang eksotis, serta suasana yang relatif lebih tenang dibandingkan destinasi lain menjadi daya tarik tersendiri. Wisatawan tidak hanya datang dari dalam daerah, tetapi juga dari luar provinsi, bahkan luar pulau. Kehadiran mereka membawa dampak positif bagi perekonomian masyarakat lokal mulai dari pelaku usaha kuliner, penginapan, hingga pedagang kecil yang merasakan peningkatan pendapatan secara signifikan.
Namun, di balik euforia tersebut, terdapat fenomena lain yang turut mencuat ke permukaan. Tradisi hiburan rakyat yang marak digelar selama Lebaran menjadi sorotan, khususnya keberadaan pertunjukan organ tunggal di berbagai sudut kampung. Hiburan ini pada dasarnya menjadi bagian dari upaya masyarakat untuk memeriahkan suasana hari raya. Akan tetapi, dalam praktiknya, tidak sedikit pertunjukan yang menampilkan unsur yang dinilai kurang sesuai dengan nilai budaya lokal.
Penampilan penyanyi dengan busana yang dianggap terlalu terbuka, serta gaya panggung yang mengumbar sensualitas, menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Fenomena ini bahkan sempat viral di media sosial, memicu berbagai reaksi dari yang menganggapnya sebagai hiburan biasa, hingga yang menilai hal tersebut sebagai penyimpangan dari norma adat dan budaya Pesisir Selatan.
“Hampir di setiap sudut kampung, hiburan ini digelar sebagai bagian dari perayaan Lebaran. Di satu sisi, kegiatan tersebut memberikan ruang bagi masyarakat untuk bersenang-senang dan melepas penat setelah menjalani ibadah Ramadan. Namun di sisi lain, kurangnya pengawasan membuat acara-acara tersebut berpotensi melanggar norma sosial dan nilai budaya yang selama ini dijaga.
Peran pemerintah dan aparat setempat menjadi sangat penting dalam menyikapi fenomena ini. Pengawasan yang lebih ketat, regulasi yang jelas, serta pendekatan persuasif kepada masyarakat perlu dilakukan agar hiburan yang ada tetap berada dalam koridor yang sesuai. Selain itu, perlu juga upaya untuk mengangkat kembali kesenian tradisional lokal sebagai alternatif hiburan yang lebih edukatif dan berbudaya.
Lebaran seharusnya menjadi momen untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan, religiusitas, dan identitas budaya. Oleh karena itu, perkembangan pariwisata yang pesat di Pesisir Selatan hendaknya diimbangi dengan pelestarian nilai-nilai lokal yang menjadi jati diri masyarakatnya.
Dengan pengelolaan yang tepat, Pesisir Selatan tidak hanya akan dikenal sebagai destinasi wisata yang indah, tetapi juga sebagai daerah yang mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kearifan budaya. Lebaran 1447 H menjadi bukti bahwa daerah ini memiliki potensi besar tinggal bagaimana semua pihak bersama-sama menjaganya agar tetap berada di jalur yang semestinya.

