Oleh: Dr. Mardianton, S.EI., M.Pd
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pesisir Selatan Bidang Ekonomi dan Pariwisata

PESISIR SELATAN DARI PESISIR TANPA HIRARKI MENJADI DESTINASI WISATA YANG MEMBANGKITKAN EKONOMI LOKAL
Oleh: Dr. Mardianton, S.EI., M.Pd
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pesisir Selatan Bidang Ekonomi dan Pariwisata
Dulunya hanya dikenal sebagai jalur lintas Sumatera Barat yang panjang dan terbentang dari ujung ke ujung, kini Kabupaten Pesisir Selatan perlahan berubah wajah. Bukan lagi sekadar daerah transit, melainkan destinasi wisata yang menawan, dengan potensi alam, budaya, dan ekonomi yang mulai terangkat berkat kepedulian masyarakat dan peluang pariwisata yang dimanfaatkan secara cerdas.
Dengan garis pantai yang membentang sekitar 234 kilometer, Pesisir Selatan menawarkan kekayaan alam yang luar biasa. Mulai dari Pantai Carocok Painan yang ikonik, Pulau Mandeh yang sering disebut “Raja Ampatnya Sumatera”, Jembatan Akar Bayang yang unik dan menjadi simbol kelestarian hutan bakau, hingga Air Terjun Tambulun, Masjid Terapung Painan, dan Rumah Gadang Made Rubiah yang memadukan nilai budaya dan religi. Tak ketinggalan, destinasi seperti Bayang Sani, Pantai Batu Kalang, Cinto, Family Beach, TPI Kambang, SJW Sumedang di Balai Selasa, hingga konservasi mangrove di Ampiang Parak Surantih, semuanya tersebar dari ujung Kecamatan Koto XI Tarusan hingga Silaut di barat laut.
Yang menarik, banyak dari tempat-tempat wisata ini muncul secara organik. Bukan hasil proyek besar pemerintah, melainkan lahir dari inisiatif masyarakat yang ingin menciptakan ruang nyaman untuk menenangkan jiwa, menikmati keindahan alam, sekaligus membuka peluang ekonomi. Di sepanjang pesisir—dari Mandeh hingga Sago, Salido, Painan, Batang Kapas, Sutera, hingga Silaut—warga lokal mulai membuka akses jalan, membuat gazebo, warung makanan, hingga menyediakan jasa penyewaan perahu dan aktivitas wisata seperti snorkeling dan pemancingan.
“Kami buat tempat ini sebaik mungkin supaya pengunjung betah. Kalau mereka senang, kami juga dapat rezeki,” ujar salah seorang pedagang makanan di Pantai Batu Kalang, sambil menyajikan pisang goreng khas lokal.
Fenomena ini membawa dampak ekonomi yang signifikan. Di pesisir, UMKM tumbuh subur: dari penjual es kelapa muda, makanan ringan, mainan anak-anak, hingga pelaku wisata yang menawarkan jasa pemandu. Bahkan, nelayan yang dulu hanya mengandalkan hasil laut kini memiliki peran ganda. Saat laut tenang dan cuaca mendukung, mereka melaut. Tapi saat ombak besar atau musim gelap, kapal-kapal mereka beralih fungsi menjadi transportasi wisatawan.
“Dulu harus ke tengah laut, sekarang ikan banyak di dekat pantai. Ekosistem terjaga karena kita jaga bersama. Saat tidak melaut, saya bawa tamu keliling pulau. Penghasilan lebih stabil, tidak fluktuatif lagi,” kata salah seorang nelayan sekaligus operator wisata di kawasan Mandeh.
Keberhasilan ini tidak lepas dari kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan. Praktik penangkapan ikan merusak seperti bom, racun, dan potas telah ditinggalkan. Kawasan perikanan tradisional 0–4 mil dari pantai dilindungi, sementara kapal besar diarahkan ke zona lebih dari 4 mil. Hasilnya, terumbu karang pulih, ikan berkembang biak, dan ekosistem laut kembali sehat—menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan pariwisata dan perikanan.
Namun, di balik pertumbuhan yang menggembirakan, tantangan masih mengintai. Banyak objek wisata lokal belum tercatat secara resmi. Tidak ada data komprehensif yang bisa menjadi dasar kebijakan pengembangan infrastruktur, promosi, maupun perlindungan lingkungan.
“Jika tidak segera diinventarisir, wisata yang lahir dari masyarakat ini bisa mati dengan sendirinya. Tanpa pembinaan, tanpa regulasi, tanpa dukungan, mereka akan kewalahan menghadapi tekanan lingkungan dan kompetisi,” tegas Dr. Mardianton, S.EI., M.Pd, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pesisir Selatan yang membidangi Ekonomi dan Pariwisata.
Ia menekankan perlunya pendekatan community-based tourism yang melibatkan masyarakat sebagai pengelola utama. “Mereka bukan obyek, tapi subjek pembangunan. Harus ada pembinaan berkelanjutan dari Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pesisir Selatan, agar wisata di sini tidak hanya musiman, tapi bisa bertahan dan berkembang dan berkelanjutan.”
Pemerintah daerah pun hendaknya mulai menyadari pentingnya langkah strategis. Rencana inventarisasi menyeluruh terhadap seluruh destinasi wisata lokal yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan, dijadikan sebagai fondasi perencanaan pariwisata yang terarah. “Kita ingin semua potensi wisata terdata, terkelola, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Mardianton.
Dengan potensi alam yang luar biasa, ditambah kesadaran masyarakat yang tinggi dalam menjaga lingkungan dan memanfaatkan peluang ekonomi, Pesisir Selatan berada di ambang lompatan besar. Jika dikelola secara berkelanjutan, bukan tidak mungkin kawasan sepanjang pesisir pantai ini akan menjadi destinasi unggulan Sumatera Barat, bahkan nasional.
Kini, Pesisir Selatan bukan lagi bayang-bayang dari daerah lain. Ia telah menjadi tujuan utama. Dan di balik setiap ombak yang memecah di pantai, terdengar suara harapan—dari nelayan, pedagang kecil, hingga generasi muda—yang mulai percaya bahwa masa depan mereka tidak harus jauh dari rumah. Cukup dengan menjaga alam, membuka hati, dan membagi keindahan, Pesisir Selatan sedang menulis kisah kebangkitannya sendiri.

