Ke Mana Perginya Filosofi “Guru Digugu dan Ditiru”? Saatnya MPLS Mengedepankan Pendidikan yang Memanusiakan Manusia
Pengiat Sosial Media: Nando

Ke Mana Perginya Filosofi “Guru Digugu dan Ditiru”? Saatnya MPLS Mengedepankan Pendidikan yang Memanusiakan Manusia
Pengiat Sosial Media: Nando
Pesisir Selatan – Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kembali menjadi sorotan publik. Pengiat media sosial Nando menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya pelaksanaan MPLS yang lebih mencerminkan nilai-nilai pendidikan dan penghormatan terhadap martabat peserta didik.
Menurut Nando, dunia pendidikan Indonesia memiliki filosofi luhur yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara, yakni “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Filosofi tersebut mengajarkan bahwa seorang pendidik harus menjadi teladan di depan, membangun semangat di tengah, dan memberikan dorongan dari belakang.
Selain itu, masyarakat juga mengenal ungkapan bahwa guru adalah sosok yang digugu dan ditiru, yakni dipercaya serta menjadi teladan bagi para peserta didik. Karena itu, setiap kegiatan pendidikan diharapkan mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan, penghormatan, dan keteladanan.
Nando mempertanyakan mengapa di era modern masih ditemukan pelaksanaan MPLS yang mengharuskan siswa baru duduk di lantai secara beramai-ramai, sementara kondisi ruang belajar memungkinkan penggunaan kursi dan bangku.
«”Sudah saatnya dunia pendidikan benar-benar memanusiakan manusia. Jika tersedia bangku dan kursi, alangkah baiknya siswa baru dipersilakan duduk dengan layak agar mereka merasa dihargai sejak hari pertama menginjakkan kaki di sekolah,” ujar Nando.
Menurutnya, kesan pertama yang diterima siswa di lingkungan sekolah sangat penting dalam membangun rasa nyaman, percaya diri, dan semangat belajar. Pendidikan yang berkualitas bukan hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari bagaimana sekolah menghormati martabat setiap peserta didik.
Pandangan tersebut merupakan bagian dari aspirasi masyarakat yang menginginkan pelaksanaan MPLS berlangsung edukatif, ramah anak, bebas dari praktik yang berpotensi merendahkan, serta selaras dengan semangat pendidikan nasional.
Sebagai penutup, Nando berharap seluruh satuan pendidikan terus berinovasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang humanis, sehingga nilai-nilai luhur warisan Ki Hajar Dewantara benar-benar hadir dalam praktik pendidikan sehari-hari, bukan hanya menjadi slogan semata.

