” SECERCAH HARAPAN KETUA DPW PKPS LAMPUNG “
Merajut Persatuan Perantau, Membangun Kampung Halaman
Oleh : MANSURDIN., S.Pd., M.Pd. (Rajo Bungsu)
Ketua DPW PKPS Lampung

” SECERCAH HARAPAN KETUA DPW PKPS LAMPUNG “
Merajut Persatuan Perantau, Membangun Kampung Halaman
Oleh : MANSURDIN., S.Pd., M.Pd. (Rajo Bungsu)
Ketua DPW PKPS Lampung
Bismillahirrahmanirrahim.
Pasca Mukernas I DPP PKPS, izinkan saya menyampaikan secercah harapan sebagai seorang anak nagari, seorang perantau, dan sebagai Ketua DPW PKPS Lampung yang mencintai kampung halaman Pesisir Selatan dengan sepenuh hati.
Perjalanan menuju arena Mukernas I DPP PKPS menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami. Perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh dalam waktu satu hari satu malam berubah menjadi tiga hari tiga malam. Berbagai kendala dan hambatan menghadang. Kendaraan mengalami kerusakan berulang kali, perjalanan tertunda, tenaga terkuras, dan kesabaran benar-benar diuji.
Namun di balik semua itu, kami menemukan pelajaran yang sangat berharga. Kami menyaksikan semangat kebersamaan yang luar biasa. Kami melihat bagaimana rasa persaudaraan mampu mengalahkan kelelahan. Kami merasakan bahwa ketika tujuan yang diperjuangkan adalah untuk organisasi dan kampung halaman, maka setiap rintangan menjadi ringan untuk dilalui bersama.
Perjalanan tersebut semakin meyakinkan kami bahwa kekuatan terbesar orang Pesisir Selatan bukan terletak pada materi yang dimiliki, melainkan pada persatuan, kekompakan, dan semangat gotong royong yang diwariskan oleh para pendahulu kita.

Foto MANSURDIN., S.Pd., M.Pd. (Rajo Bungsu) Foto Ketua DPW PKPS Lampung
Dari pengalaman itu lahirlah sebuah harapan besar.
Harapan agar seluruh perantau Pesisir Selatan di mana pun berada semakin mempererat tali silaturahmi dan meninggalkan segala bentuk ego yang dapat memecah belah persaudaraan.
Kita semua berasal dari ranah yang sama.
Kita dibesarkan oleh adat yang sama.
Kita memiliki sejarah, budaya, bahasa, dan kampung halaman yang sama.
Karena itu, janganlah kita terkotak-kotak hanya karena perbedaan wadah organisasi.
Hari ini kita mengenal PKPS sebagai Perkumpulan Keluarga Pesisir Selatan, dan kita juga mengenal IKPS sebagai Ikatan Keluarga Pesisir Selatan.
Namanya boleh berbeda.
Bentuk organisasinya boleh berbeda.
Tetapi tujuan kita sesungguhnya tetap sama, yaitu mempererat persaudaraan sesama perantau, membantu masyarakat, melestarikan adat dan budaya, serta berkontribusi bagi kemajuan kampung halaman Pesisir Selatan.
Saya berharap seluruh perantau mampu menempatkan kepentingan masyarakat dan kampung halaman di atas kepentingan kelompok maupun organisasi masing-masing. Tidak perlu lagi mempertentangkan nama, tidak perlu lagi memperbesar perbedaan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita dapat bersinergi dan berkolaborasi untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat Pesisir Selatan.
Kampung halaman tidak membutuhkan persaingan di antara para perantau.
Kampung halaman membutuhkan persatuan.
Kampung halaman membutuhkan kepedulian.
Kampung halaman membutuhkan karya nyata.
Saya bermimpi suatu saat seluruh organisasi perantau Pesisir Selatan, baik yang berhimpun dalam PKPS, IKPS maupun wadah lainnya, dapat duduk bersama, bergandengan tangan, menyatukan gagasan, serta menyusun langkah-langkah strategis untuk membantu pembangunan daerah.
Karena sesungguhnya yang akan dikenang oleh generasi mendatang bukanlah nama organisasi yang kita besarkan, melainkan warisan pengabdian yang kita tinggalkan untuk kampung halaman.
Selain harapan akan semakin kuatnya persatuan sesama perantau, saya juga menaruh harapan besar terhadap hasil Mukernas I DPP PKPS yang telah dilaksanakan.
Mukernas telah menghasilkan berbagai keputusan, rekomendasi, dan program strategis yang dirumuskan melalui musyawarah dan pemikiran bersama. Oleh karena itu, hasil Mukernas hendaknya tidak berhenti sebagai dokumen organisasi atau sekadar arsip persidangan. Seluruh keputusan yang telah disepakati harus diwujudkan menjadi program nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Setiap bidang dan setiap pemangku kepentingan hendaknya melaksanakan amanah sesuai tugas dan tanggung jawabnya. Program yang telah dirancang harus diterjemahkan menjadi kerja nyata yang terukur, berkelanjutan, dan dapat dirasakan manfaatnya oleh warga Pesisir Selatan, baik di ranah maupun di rantau.
Dalam konteks itulah saya berharap terbangun sinergisitas yang semakin kuat antara perantau dan para pemimpin serta pejabat yang memiliki kewenangan di Kabupaten Pesisir Selatan.
Kemajuan daerah tidak mungkin dibebankan hanya kepada pemerintah.
Sebaliknya, pembangunan kampung halaman juga tidak mungkin hanya mengandalkan semangat para perantau.
Kemajuan akan terwujud apabila kedua kekuatan besar ini berjalan beriringan, saling mendukung, saling menguatkan, dan saling melengkapi.
Para perantau memiliki pengalaman, jaringan, pengetahuan, gagasan, dan sumber daya yang sangat berharga. Sementara pemerintah daerah memiliki kewenangan, kebijakan, serta instrumen pembangunan yang dibutuhkan untuk mewujudkan berbagai program kemajuan daerah.
Apabila kekuatan ranah dan rantau dipersatukan dalam satu visi pembangunan, maka akan lahir berbagai terobosan yang mampu mempercepat kemajuan Kabupaten Pesisir Selatan di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, pariwisata, hingga pemberdayaan generasi muda.
Oleh sebab itu, saya mengajak seluruh elemen masyarakat Pesisir Selatan untuk membangun komunikasi yang lebih baik, memperkuat koordinasi, dan mengedepankan semangat kolaborasi.
Mari kita hilangkan ego sektoral.
Mari kita tinggalkan kepentingan pribadi dan kelompok.
Mari kita kedepankan kepentingan masyarakat serta kemajuan daerah yang kita cintai bersama.
Semangat Mukernas harus menjadi energi baru bagi seluruh keluarga besar Pesisir Selatan. Semangat itu tidak boleh berhenti di ruang sidang, tidak boleh berhenti dalam laporan kegiatan, dan tidak boleh berhenti dalam dokumentasi acara. Semangat itu harus hidup dalam tindakan nyata, dalam karya nyata, dan dalam pengabdian nyata.
Sebagaimana filosofi Minangkabau mengajarkan kepada kita tentang musyawarah, persatuan, dan kebersamaan, maka marilah kita menjadikan semangat “Saiyo Sakato” sebagai fondasi dalam membangun masa depan Pesisir Selatan.
Karena pada akhirnya sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling banyak berbicara, tetapi siapa yang paling banyak berkarya.
Sejarah tidak akan mengingat perbedaan nama organisasi, tetapi akan mengenang persatuan seluruh anak Pesisir Selatan yang mampu bergandengan tangan membangun kampung halamannya.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk, kekuatan, dan keberkahan kepada kita semua dalam mengemban amanah untuk masyarakat, organisasi, dan kampung halaman yang kita cintai.
Saiyo Sakato, Basamo Mako Manjadi.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

