
Pungli Parkir Liar di “Bateh” Pessel Bikin Wisatawan Kabur, Pedagang Menjerit
PESISIR SELATAN — nrtvnews.info Siapa yang melintas di jalur Padang–Pesisir Selatan pasti tak asing dengan kawasan yang akrab disebut “Bateh” oleh anak muda setempat. Berada tepat di perbatasan dua daerah, lokasi ini sengaja didesain sebagai rest area yang memanjakan mata dan menenangkan pikiran para pelintas yang kelelahan di perjalanan. Dari atas menara pantau, hamparan pemandangan alam tersaji memukau terlebih saat malam hari, ketika gemerlap lampu kota berpadu dengan langit gelap yang jernih.
Tak hanya soal pemandangan, kawasan Bateh juga menawarkan deretan lapak kuliner yang siap mengisi perut para pengunjung. Dari makanan ringan hingga hidangan khas daerah, semuanya tersedia dengan harga terjangkau. Bagi puluhan pedagang kaki lima yang menggantungkan hidup di sana, setiap kendaraan yang berhenti adalah harapan akan sesuap nasi untuk keluarga mereka di rumah.
Namun, ironisnya, keindahan dan potensi ekonomi itu kini ternodai oleh ulah segelintir oknum. Berdasarkan pengakuan sejumlah pengendara yang sempat singgah, keberadaan tukang parkir liar yang memungut retribusi secara paksa menjadi alasan utama mereka enggan berlama-lama di kawasan tersebut. Pungutan berkisar Rp2.000 hingga Rp5.000 per kendaraan memang terdengar sepele, tetapi sikap agresif para oknum inilah yang membuat suasana menjadi tidak nyaman dan menimbulkan kesan buruk.
“Uang parkirnya sih tidak seberapa, tapi rasanya risih. Lebih baik langsung jalan saja daripada harus berurusan,” ujar seorang pengendara sepeda motor yang ditemui di lokasi.
Dampak dari praktik pungutan liar ini ternyata jauh lebih besar dari sekadar ketidaknyamanan pengunjung. Para pedagang di kawasan Bateh kini harus menanggung kerugian yang tidak sedikit. Logikanya sederhana, ketika wisatawan enggan singgah karena takut dipalak, maka tidak ada yang membeli dagangan mereka. Pendapatan puluhan pedagang yang seharusnya mengalir deras dari sektor kuliner, kini tergerus hanya karena ulah beberapa oknum yang memungut uang receh.
Kondisi ini menjadi tamparan keras bagi upaya pengembangan pariwisata di Kabupaten Pesisir Selatan. Betapa tidak, sebuah kawasan yang sudah didesain sedemikian rupa untuk menarik wisatawan justru kehilangan daya tariknya bukan karena fasilitas yang buruk, melainkan karena masalah klasik yang tak kunjung terselesaikan, pungutan liar.
Pemerintah daerah dan aparat terkait kini dituntut untuk bertindak tegas. Penertiban parkir liar di Bateh dan seluruh destinasi wisata di Pesisir Selatan bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak. Sebab, membiarkan praktik ini terus berlangsung sama artinya dengan membiarkan para pedagang kecil kehilangan mata pencaharian dan pariwisata daerah kehilangan kepercayaan dari pengunjung.
Kawasan Bateh seharusnya menjadi wajah ramah Pesisir Selatan bagi setiap pendatang, bukan menjadi tempat yang membuat orang buru-buru melintas tanpa menoleh. (Red)

