Oleh : Alpin PDM Pessel Pengiat Medsos & Media

Oleh : Alpin PDM Pessel Pengiat Medsos & Media
Sepekan terakhir di Pesisir Selatan terasa seperti potongan-potongan kisah yang saling bertabrakan antara harapan, duka, semangat, dan juga tanda tanya yang belum terjawab. Di tengah riuhnya kabar yang datang silih berganti, masyarakat mencoba mencerna satu per satu, seolah menyusun mozaik besar tentang wajah daerah Pesisir Selatan hari ini.
Di sudut Nagari Amping Parak, angin laut membawa kabar yang membanggakan. Sosok Haridman Kambang menjadi buah bibir, bukan hanya di kampungnya, tetapi hingga ke tingkat nasional bahkan dunia. Ia dikenal sebagai penggerak ekowisata yang dengan tekun membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga alam. Upaya yang dulunya dipandang sederhana, kini berbuah manis. Kawasan Amping Parak diajukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk meraih penghargaan internasional dari PBB. Warga pun tersenyum bangga sebuah bukti bahwa kerja tulus dari kampung kecil bisa menggema hingga ke panggung dunia.
Namun, kebanggaan itu berdampingan dengan kabar pilu. Di aliran Sungai Liku, seorang lansia ditemukan meninggal dunia. Kejadian itu menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar. Sungai yang biasanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mendadak menjadi saksi bisu sebuah peristiwa tragis. Banyak yang kemudian merenung, tentang keselamatan, tentang perhatian terhadap para orang tua, dan tentang rapuhnya hidup manusia.
Di sisi lain, kabar menggembirakan datang dari dunia pendidikan. Sejumlah siswa Pesisir Selatan berhasil lolos ke perguruan tinggi negeri ternama. Nama-nama mereka menjadi inspirasi baru, terutama bagi generasi muda di kampung-kampung. Di tengah keterbatasan, mereka membuktikan bahwa mimpi tetap bisa diraih. Orang tua, guru, dan masyarakat ikut merasakan kebanggaan yang tak terucapkan.
Sayangnya, dunia pendidikan di Pesisir Selatan ini juga diselimuti kabut tanda tanya. Muncul isu tentang “aktor luar” yang diduga bermain di balik proyek pendidikan. Publik mulai bertanya-tanya, mempertanyakan transparansi dan keadilan. Kepercayaan yang seharusnya menjadi fondasi, kini diuji oleh bayang-bayang yang belum jelas bentuknya.
Tak hanya itu, dinamika pemerintahan daerah pun memanas. Seorang mantan pejabat inspektorat merasa dizalimi dan memilih mencari perlindungan ke tingkat yang lebih tinggi. Sementara itu, pemberhentian sementara Kepala Dinas Pertanian juga menjadi misteri yang belum terjawab. Kepala BKPSDM memilih bungkam, membuat spekulasi semakin liar. Di warung kopi hingga ruang diskusi kecil, masyarakat membicarakan hal ini dengan penuh rasa ingin tahu, bahkan kekhawatiran.
Di tengah berbagai persoalan tersebut, semangat gotong royong tetap hidup. PMI Pesisir Selatan bergerak cepat menyalurkan bantuan kepada korban kebakaran. Tanpa banyak bicara, mereka hadir membawa harapan di tengah musibah. Begitu pula Dinas PUPR yang mulai “tancap gas” mendukung gerakan Indonesia Asri dengan langkah sederhana, membersihkan lingkungan kantor. Sebuah langkah kecil, namun diharapkan bisa menjadi contoh bagi masyarakat luas.
Sementara itu, kritik terhadap sektor pariwisata Sumatera Barat terdengar semakin lantang. Banyak pihak menilai masih ada yang perlu dibenahi, mulai dari pengelolaan hingga kebersihan. Bahkan Amping Parak yang sedang naik daun pun tak luput dari sorotan, terutama terkait pengelolaan sampah dalam penilaian Adipura. Ini menjadi pengingat bahwa popularitas harus diiringi dengan tanggung jawab.
Di bidang olahraga, semangat juang terlihat dari para atlet IPSI Pesisir Selatan yang dilepas untuk mengikuti pemusatan latihan daerah di Padang. Mereka membawa harapan, tidak hanya untuk prestasi, tetapi juga untuk mengharumkan nama daerah.
Namun, satu gelombang besar tampak mulai terbentuk. Para tenaga kesehatan honorer yang dirumahkan berencana menggelar aksi demonstrasi besar-besaran ke kantor DPRD. Mereka merasa haknya terabaikan, pengabdiannya tak dihargai. Jika aksi itu benar terjadi, maka akan menjadi ujian lain bagi pemerintah daerah dalam merespons aspirasi rakyatnya.
Semua peristiwa ini, baik yang membanggakan maupun yang mengkhawatirkan, menjadi cerminan nyata kondisi Pesisir Selatan hari ini. Pemerintah daerah dituntut untuk hadir, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai penentu arah. Masyarakat menunggu langkah nyata bukan sekadar janji.
Di balik semua itu, Pesisir Selatan tetaplah tanah yang hidup. Dengan lautnya yang luas, sungainya yang mengalir, dan masyarakatnya yang penuh semangat. Kisah sepekan ini mungkin penuh warna, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap tantangan adalah kesempatan untuk tumbuh, dan setiap harapan selalu punya ruang untuk diperjuangkan.

